Jembatan di Puncak Cisarua Putus, Warga dan Tukang Ojek Kesulitan
![]() |
| Foto: Dok.Pribadi |
Cisarua, Bogor, 9 Maret 2025 - Banjir besar merusak enam jembatan, termasuk yang menghubungkan Desa Tugu Selatan (3/3/2025). Akses transportasi terhambat, mempengaruhi mobilitas warga dan pendapatan tukang ojek yang kesulitan mencari penumpang. Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat dan akan memasang jembatan darurat, namun dampak ekonomi yang dirasakan warga, terutama tukang ojek, memerlukan perhatian lebih.
Hujan deras yang mengguyur Cisarua, Kabupaten Bogor, menyebabkan banjir bandang yang merusak infrastruktur. Salah satu dampak terparah yaitu putusnya jembatan penghubung di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua. Kejadian ini menghambat mobilitas warga, terutama yang mengandalkan jalur tersebut untuk beraktivitas sehari-hari.
Total enam jembatan di Kecamatan Cisarua rusak akibat arus sungai yang meluap. Beberapa rumah di sekitar sungai mengalami kerusakan yang begitu parah, bahkan ada yang dindingnya jebol diterjang air. Banyak warga terpaksa mengungsi untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Pemerintah menetapkan status tanggap darurat dan berencana memasang jembatan darurat jenis bailey agar akses transportasi segera pulih. Selain itu, tim BPBD, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk evakuasi serta penyaluran bantuan. Bantuan seperti makanan, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya mulai disalurkan agar korban dapat bertahan hingga kondisi membaik.
Namun, para tukang ojek mengeluhkan dampak ekonomi akibat jembatan yang putus. Mereka menjadi kesulitan mendapatkan penumpang karena akses terhambat. “Biasanya saya bisa dapat Rp10.000 sehari, sekarang Rp1.000 pun sangat sulit,” keluh seorang tukang ojek. Mereka merasa tidak ada yang peduli dengan kondisi mereka dan berharap pemerintah memberikan perhatian lebih, bukan hanya dalam perbaikan jembatan, tetapi juga terhadap mata pencaharian mereka.
Beberapa tukang ojek bahkan mengungkapkan kekecewaannya karena merasa diabaikan. Mereka menuturkan bahwa pemerintah seolah menganggap semua tukang ojek adalah seorang duda, padahal banyak dari mereka yang mencari nafkah untuk keluarga. “Kami punya anak, punya istri yang harus diberi makan. Kalau tidak bisa narik, bagaimana kami bisa hidup?” ungkap salah seorang ojek.
![]() |
| Foto: Dok.Pribadi |
Sementara itu, masyarakat setempat bergotong royong membersihkan sisa-sisa puing akibat banjir besar. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan seperti penghijauan dan perbaikan sistem drainase agar bencana serupa tidak terulang.
Selain
perbaikan infrastruktur, pemerintah juga harus memperhatikan dampak ekonomi
akibat bencana ini. Bantuan bagi warga yang kehilangan mata pencaharian sangat
dibutuhkan agar mereka dapat bangkit kembali.


Komentar
Posting Komentar